|
||||
| BLH Bina Masyarakat Pesisir Kelola Mangrove |
|
NATUNA – Badan Lingkungan Hidup (BLH) Kabupaten Natuna, melakukan pembinaan terhadap masyarakat pesisir dalam pengelolaan hutan mangrove. Hal ini dilakukan terkait dengan pentingnya keberadaan hutan mangrove atau bakau di daerah pesisir yang memiliki fungsi dalam menjaga kelestarian hayati dan sumber penghidupan bagi masyarakat sekitar.
Menurut Kepala BLH Kabupaten Natuna, Drs.Sabki Yahya, mangrove dapat juga dijadikan sarana untuk mengurangi abrasi atau pengikisan pantai. “Sayangnya, sampai saat ini masyarakat pesisir tidak menyadari akan pentingnya keberadaan hutan Mangrove. Banyak perilaku tidak bijak dengan menebang dan membuka wilayah hutan demi kepentingan kehidupan termasuk industry tanpa memikirkan kelanjutan hutan dimasa depan. Dan ini memberikan dampak negatif bagi generasi berikutnya jika keberadaan hutan mangrove punah,” ungkap Sabki Yahya pada acara pembinaan masyarakat pesisir dalam pengelolaan hutan Mangrove, di Penginapan Ajo, Pering, Ranai, Natuna. Menurut Sabki, untuk mencegah penyempitan wilayah hutan bakau dibutuhkan kesadaran dan kerjasama dari semua pihak, baik lembaga swadaya, aparatur dan instansi terkait serta seluruh elemen masyarakat. Untuk itu, dengan kegiatan pembinaan, diharapkan ada konsep pengelolaan hutan pantai dapat dipahami dan diimplementasikan pengelolaannya di Kabupaten Natuna. Dikatakan, dengan menjaga kelestarian hutan mangrove, melalui pengelolaan bijak dan berkelanjutan maka ekosistem hayati bagi sumber kehidupan masyarakat pesisir dapat terjaga yang pada gilirannya dapat meningkatkan perekonomian masyarakat. Sementara itu, ketua Pelaksana Kegiatan, Hazriani,S.Pi menambahkan bahwa kegiatan ditujukan kepada beberapa pihak terkait, dengan pola memberikan pemahaman kepada masyarakat dalam upaya perlindungan dan pengelolaan hutan mangrove. “Supaya dapat tercapai lebih efektif dan efisien,” katanya. Acara ini dikuti 60 orang yang berasal dari pegawai dinas instansi terkait, kepala sekolah, tokoh masyarakat dan lembaga swadaya bidang lingkungan hidup di wilayah kerja Kabupaten Natuna. Terpisah, pengamat lingkungan Natuna LSM.Gerbang Utara, Sarizal Sofyan meminta pemerintah untuk tidak hanya bisa berbicara teori semata. “Masih banyak di sepajang muara sunggai ditanami hutan mangrove namun malah dibabat habis. Terbukti beberapa waktu lalu terjadi pembabatan besar besaran terhadap hutan bakau di kecamatan Pulau Tiga demi keuntungan oknum pengusaha, tampa menghiraukan dampak dan akibatnya dikemudian hari,” ungkap Rizal. Ditambahkan, banyak juga proyek pemerintahan yang bersinggungan dengan hutan mangrove. Misalnya penimbunan tanah taman Kota di pantai Kencana, pembukaan jalan poros dan bangunan fisik lainya yang tidak menghiraukan keberadaan hutan mangrove. Riky R
Powered by !JoomlaComment 3.26
3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved." |



















